Corporate Presentation

Humanika Inc.

Rabu, 04 Maret 2015

Kehidupan

Keindahan dari kearifan lokal yang dimiliki jiwa-jiwa besar yang membuat bangsa Indonesia menjadi besar karena keluhurannya.

Kehidupan itu adalah terima dan kasih. Tanpa kita sadari, sering kita ucapkan kata terima kasih. kalimat ini bukan hanya memiliki arti sama dengan "thank to you" dalam bahasa Inggris, atau terjemahan dalam bahasa lain, namun memiliki makna luas dan dalam, yang menggambarkan betapa adi luhungnya budaya bangsa Indonesia dalam menghargai, bersikap dan berprilaku terhadap diri, sesama dan lingkungan serta alam semesta.



Nrimo ing Pandum dan tawakal dan  ini befungsi dalam hubungan menerima stimulus dari luar. Menurut Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962) rasa senang timbul akibat terpenuhinya harapan oleh kenyataan dan bila harapan tidak terpenuhi maka menimbulkan rasa susah. Harapan adalah sesuatu yang kita ciptakan atas kehendak kita sendiri. Sedangkan kenyataan adalah hal-hal yang dalam batas tertentu berada di luar kemampuan kita. Dalam Islam dikenal bahwa Qadha dan Qadar sepenuhnya berada di tangan Allah SWT dan berada di luar jangkauan manusia.

Disinilah  Nrimo ing Pandum dan tawakal menjalankan fungsinya. Kedua konsep ini sebagai pengekang agar manusia tidak terlalu tinggi dalam berharap sehingga ketika kenyataan ternyata tidak sesuai, rasa susah tidak akan menyerang individu tersebut. Konsep ini membantu kita menerima kenyataan yang ada. Tawakal membuat kita berserah kepada Allah SWT atas segala yang telah ditetapkanNya. Nrimo ing Pandum membantu kita untuk menerima segala sesuatu apa adanya tanpa berharap atau menuntut yang tidak-tidak terhadap lingkungan.

Lalu mengapa kita begitu egois. Hidup ini adalah tentang menerima dan memberi. Menerima apa yang telah diberikan kepada kita dengan lapang hati dan tanpa menuntut dan memberikan apa yang bisa kita berikan semaksimal mungkin tanpa pamrih. "Nrimo ing Pandum, Makaryo ing Nyoto."

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (Az Zumar: 38)

wicaksana, 2015

Jumat, 31 Oktober 2014

Jangan Biarkan Rasa Kesal Membelenggu Diri

Assalamualaikum dan semangat pagi SOBAT Indonesia...

Beberapa hari, dan bahkan lebih dari seminggu ini banyak hal yang dilalui, menyenangkan dengan segala kisah-kisahnya. Semua serba cepat dan melesat...sehingga butuh upaya-upaya yang tidak seperti biasanya. Nikmatnya..senikmat hujan deras yang menerpa jiwa. Petir-petir serasa tidak terhiraukan...terabaikan, hingga akhirnya kembali pada tulisan untuk minggu ini. Dan atau untuk minggu-minggu lalu..yang telah hilang bersama derasnya hujan cerita...berlalu dan tanpa tulisan dan kontemplatif. Miskinnya diri ini.
Kesal, sah-sah saja kita ungkapkan terhadap apapun yang membuat kita kesal. Kenyataan yang terjadi, seringkali kita terjebak dengan mudah menemukan sesuatu yang kita kesali. Seorang Ibu yang sering mengomel karena kenakalan anaknya, seorang suami yang sering kesal dengan kecerewetan istrinya, sahabat yang kesal karena sering diabaikan oleh temannya, seorang pengemudi kesal dengan ketidakdisiplinan dijalan supir angkutan di jalan, atasan yang sering marah karena kesalahan pekerjaan bawahan, dan kekesalan-kekesalan lainnya.
Kekesalan kecil dengan cepat kita temukan ketika kekesalan besar sudah kita atasi dengan baik. Sebenarnya mudah saja, kekesalah adalah pilihan, kekesalan itu terjadi pada kita hanya jika kita inginkan. Sebaliknya, kita pun dapat saja tidak kesal pada apa saja. Kita akan dapat menerima segala sesuatunya sebagaimana ia adanya.
Bila kita analisa, mengapa kekesalan muncul dalam diri kita ? jawabannya adalah karena kita menggunakan semua aturan yang ada dalam pikiran kita untuk menilai keadaan apapun pada orang lain. Meski tak sepenuhnya kita mampu mengubah apa yang terjadi. Merubah apa yang ada dalam pikiran atau benak kita adalah hal yang lebih penting. Bila perlu, buanglah segala aturan yang kita gunakan untuk meneropong orang lain dengan kacamata kita. 
Sesungguhnya aturan itu hanya berlaku bagi diri kita. Dan, gunakan itu untuk mengukur diri kita sendiri. Itu jauh lebih berharga ketimbang terus mencari celah orang lain yang membuat kita kesal yang pada akhirnya membuat bilur-bilur penyesalan dengan respon yang kita berikan.
Semoga awan-awan kelabu berlindung kilasan2 petir di atas kepala yang membuat kesal dengan mudah kita tepis......... dengan melihat kekesalan diarahkan kepada diri bukan kepada siapa pun. yang tertinggal...apakah sebuah nilai atau ketetapan yang sudah dibuat diturunkan atau...mempertahankan dan belajar untuk melengkapi kesenjangan yang ada. Karena Hidup adalah bercerita tentang diri sendiri. Dekatkan "kepala" dan "hati" dalam satu kesatuan komitmen dalam menjalankan kehidupan yang penuh kekesalan dengan penuh kenikmatan belajar dan meningkatkan kualitas diri.

Selamat bereksplorasi dan berkontemplasi SOBAT Indonesia...untuk Indonesia lebih BAIK!

Humanika Outbound Training - HOT

Contact Me