Corporate Presentation

Humanika Inc.

Jumat, 31 Oktober 2014

Jangan Biarkan Rasa Kesal Membelenggu Diri

Assalamualaikum dan semangat pagi SOBAT Indonesia...

Beberapa hari, dan bahkan lebih dari seminggu ini banyak hal yang dilalui, menyenangkan dengan segala kisah-kisahnya. Semua serba cepat dan melesat...sehingga butuh upaya-upaya yang tidak seperti biasanya. Nikmatnya..senikmat hujan deras yang menerpa jiwa. Petir-petir serasa tidak terhiraukan...terabaikan, hingga akhirnya kembali pada tulisan untuk minggu ini. Dan atau untuk minggu-minggu lalu..yang telah hilang bersama derasnya hujan cerita...berlalu dan tanpa tulisan dan kontemplatif. Miskinnya diri ini.
Kesal, sah-sah saja kita ungkapkan terhadap apapun yang membuat kita kesal. Kenyataan yang terjadi, seringkali kita terjebak dengan mudah menemukan sesuatu yang kita kesali. Seorang Ibu yang sering mengomel karena kenakalan anaknya, seorang suami yang sering kesal dengan kecerewetan istrinya, sahabat yang kesal karena sering diabaikan oleh temannya, seorang pengemudi kesal dengan ketidakdisiplinan dijalan supir angkutan di jalan, atasan yang sering marah karena kesalahan pekerjaan bawahan, dan kekesalan-kekesalan lainnya.
Kekesalan kecil dengan cepat kita temukan ketika kekesalan besar sudah kita atasi dengan baik. Sebenarnya mudah saja, kekesalah adalah pilihan, kekesalan itu terjadi pada kita hanya jika kita inginkan. Sebaliknya, kita pun dapat saja tidak kesal pada apa saja. Kita akan dapat menerima segala sesuatunya sebagaimana ia adanya.
Bila kita analisa, mengapa kekesalan muncul dalam diri kita ? jawabannya adalah karena kita menggunakan semua aturan yang ada dalam pikiran kita untuk menilai keadaan apapun pada orang lain. Meski tak sepenuhnya kita mampu mengubah apa yang terjadi. Merubah apa yang ada dalam pikiran atau benak kita adalah hal yang lebih penting. Bila perlu, buanglah segala aturan yang kita gunakan untuk meneropong orang lain dengan kacamata kita. 
Sesungguhnya aturan itu hanya berlaku bagi diri kita. Dan, gunakan itu untuk mengukur diri kita sendiri. Itu jauh lebih berharga ketimbang terus mencari celah orang lain yang membuat kita kesal yang pada akhirnya membuat bilur-bilur penyesalan dengan respon yang kita berikan.
Semoga awan-awan kelabu berlindung kilasan2 petir di atas kepala yang membuat kesal dengan mudah kita tepis......... dengan melihat kekesalan diarahkan kepada diri bukan kepada siapa pun. yang tertinggal...apakah sebuah nilai atau ketetapan yang sudah dibuat diturunkan atau...mempertahankan dan belajar untuk melengkapi kesenjangan yang ada. Karena Hidup adalah bercerita tentang diri sendiri. Dekatkan "kepala" dan "hati" dalam satu kesatuan komitmen dalam menjalankan kehidupan yang penuh kekesalan dengan penuh kenikmatan belajar dan meningkatkan kualitas diri.

Selamat bereksplorasi dan berkontemplasi SOBAT Indonesia...untuk Indonesia lebih BAIK!

Jumat, 22 Agustus 2014

Menjadi REMAJA

Semangat Pagi SOBAT IndONEsia!...senang bertemu kembali dalam tulisan berikut ini. Seorang sahabat dan partner dalam pekerjaan dan bisnis dan beliau juga seorang guru, guru piano dan juga pemerhati Remaja berbagi tentang pengalamannya dalam mengelola remaja. 

Alhamdulillah saya pribadi telah melewati masa remaja saya, namun sepertinya jiwa remajanya tetap "exist" ! hehehehe...saya akui, penulis ini adalah pribadi yang "matang" dan piawai dalam mengembangtkan SDM khususnya remaja. Mari kita simak tips berdasarkan pengalaman beliau terkait bagaimana menjadi REMAJA.

Menjadi seorang yang baik tentu sangat diidam-idamkan oleh semua orang, selain itu agar untuk melakukan pencegahan agar tidak terjadi maslah didalam masyarakat maka seorang individu perlu memiliki sifat-sifat agar menjadi pribadi yang baik. Bagaimana sih agar kita menjadi sesorang yang memiliki kepribadian yang baik?
Berikut sepuluh sifat yang harus dimiliki oleh seseorang yang berkepribadian baik:

1.Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta.  Prinsipnya “ya diatas ya dan tidak diatas tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2. Rendah hati
Beda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, rendah hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan                  
kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yg setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. Bersikap positif
Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam.

5. Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau merasa kecewa dan sakit hati, tidak akan menyalahkan siapapun. Selalu menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.


7. Kepercayaan diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Orang yang percaya diri tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. Kebesaran jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Easy going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. Empaty
Empati adalah sifat yg sangat mengagumkan. Orang yg berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik, selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Tips Berteman yang baik     
                             
Zaman sekarang teman sejati masih ada nggak ya? Jika kamu belum pernah menemukan teman yang sangat kamu sukai, awalilah dengan menjadi seorang bisa disukai teman-temanmu. Kita intip dulu tips berikut ini:

1. Jadilah pendengar yang baik buat teman-temanmu. Jangan pernah sekalipun bersikap menggurui. Memberi nasihat boleh-boleh aja, tapi jangan melakukannya dengan cepat. Pelahan-lahan namun pastikan temanmu itu mendengarkannya.

2. Setiap orang memiliki pribadi yang unik dan khas. Cobalah mengerti bagaimana karakter temanmu. Hormatilah pendapatnya. Walau kadang kalian bisa saling berbeda pendapat dan keyakinan, namun pasti ada jalan tengah yang bisa ditempuh asal jangan tergesa-gesa memutuskannya.

3. Peliharalah kepercayaan yang telah diberikan oleh teman dekatmu itu. Jangan pernah sekali-kali kamu mengobral rahasia temanmu pada orang lain. Saling jaga rahasia, anggap saja antara kalian ada sebuah permainan yang hanya bisa dimainkan oleh kamu dan temanmu.

4. Berilah dukungan dan pujilah temanmu, kesampingkan kesalahannya dan kelemahannya.

5. Jangan pernah merasa iri kepada temanmu. Kebahagiaannya adalah bahagia milikmu juga. Ikut berbahagialan atas keberhasilan temanmu.

6. Dekat bukan berarti harus tergantung satu sama lain. Berikan pertolongan secukupnya. Jagalah ‘jarak’ yang wajar. Mundurlah sedikit bila kita merasa pertemanan sudah terlampau dekat. Sebaliknya, mendekatlah kala kita merasa pertemanan sudah semakin renggang.

7. Sisihkan waktu untuk melakukan kegiatan refresing bersama. Kembangkan sikap toleransi, fleksibilitas, asertive, empati dan belajar saling memahami.

8. Jangan pernah ragu untuk minta maaf pada temanmu saat kamu melakukan sebuah kesalahan padanya. Setelah itu berusahalah perbaiki kesalahanmu. Begitu pula sebaliknya, berikan maaf dan lupakan kesalahannya jika ia bersalah.

http://www.slideshare.net/wicaksana/competence-and-trustworthiness


(c) 2014 Yan Geranit, S.Psi, MM (Partner of www.humanikaconsulting.com)

Humanika Outbound Training - HOT

Contact Me