Corporate Presentation

Humanika Inc.

Rabu, 17 Juni 2015

HIDUP SEHAT DENGAN MEMAAFKAN

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamualaikum Wr. Wb. Dan semangat Pagi Sobat Indonesia !

Sore ini adalah sore yang sangat menarik, lalulintas begitu padatnya. Tampak dari jendela ruang dimana saya sedang menulis tulisan ini. Hmmm..sore ini merupakan awal dimana memasuki bulan Ramadhan, esok harinya umat muslim akan menjalankan ibadah puasa. Sehingga sore ini, banyak sobat muslim ingin bergegas pulang lebih awal untuk menikmati sore pertama untuk tarawih dan persiapan sahur bersama keluarga. Terpantau sejak jam 15.30..lalu lintas tampak “pamer paha” – padat merayap pelan-pelan dan hati-hati...sabar, sabar, sabar!

Seperti kebanyakan penulis lainnya, situasi seperti ini mengusik ruang imaji untuk menggambarkan pada situasi kemacetan yang luar biasa yang dirasakan setiap harinya.”MACET”ini bukan hanya ada di jalan saja..pekerjaan pun juga sering mengalami kemacetan ide, solusi atau kemacetan komunikasi dan bahkan hingga kemacetan hubungan. Sobat pembaca sering merasakan hal tersebut. Terkadang apa yang sudah direncanakan tidak sesuai dengan kondisi faktual yang dikerjakan dan terjadi. Ini baru namanya MASALAH. Pasti rasanya ketemu kata “itu” jadi buat MARAH, GRRR...GRRRR...GERAM ! hayoo siapa yang pernah dan mungkin sering merasakan hal ini hayoo ngacung?. saya yang akan mengangkat tangan tanda setuju.

Yen dipikir..pikir, analisis pribadi saya..., Marah itu karena adanya kejadian ( faktual) yang tidak sesuai harapan (pikiran). Jadi...malu juga ya...yang buat masalah itu sebenarnya diri kita sendiri. Terkadang kita berharap rekan kerja kita menerima ide yang kita sampaikan, ternyata TIDAK! Padahal ide itu dibuat tiga hari tiga malam tanpa tidur. Atau berharap menuju kekantor pagi hari plus pagi “buta” dengan harapan tidak terjebak kemacetan..eh ternyata eh ternyata...ada truk pengangkut pasir yang mogok di tengah jalan. Hadeeeh...sederhana namun bisa buat naik pitam! Bagaimana jika dari bangun, berangkat ke kantor, hingga pulang kantor kita menemukan permasalahan secara bertubi-tubi, bakalan hidup ini menjadi berbalik memusuhi diri!

Prinsipnya, begitu banyak persoalan di kehidupan kita ini, yang tahu-tahu bisa menaikkan emosi kita, dan akhirnya meledakkan amarah kita. Kemudian untuk seterusnya, hidup kita selalu diselimuti berbagai rasa benci dan dendam terhadap banyak hal dan terhadap beberapa orang. Padahal, terus-menerus memendam kemarahan hanya akan merugikan diri sendiri. Bahkan apabila rasa benci itu terus menguasai, akibatnya kita berisiko menderita berbagai penyakit. Orang yang tidak bisa memaafkan umumnya akan merasa lebih cemas, takut, dan pemarah. Kebencian kronis memiliki efek yang dapat melemahkan kesehatan. Karena kebencian tersebut akan menimbulkan kemarahan, rasa bersalah, permusuhan, dan sakit hati dari waktu ke waktu. Meledaknya emosi bisa melepaskan hormon kortisol, yang bisa berakibat buruk bagi kesehatan.

Penelitian menggunakan teknologi canggih pencitraan otak seperti tomografi emisi positron dan pencitraan resonansi magnetik fungsional berhasil mengungkap perbedaan pola gambar otak orang yang emosi dan yang tidak emosi. Orang yang emosi terkait erat dengan sikap marah, yang berdampak pada penurunan fungsi kekebalan tubuh. Mereka yang tidak memaafkan memiliki aktifitas otak yang sama dengan otak orang yang sedang stres, marah, dan melakukan penyerangan (agresif).

Demikian pula, ada ketidaksamaan aktifitas hormon dan keadaan darah si tidak emosi dibandingkan dengan si pendendam atau si pemarah. Pola hormon dan komposisi zat kimia dalam darah orang yang emosi bersesuaian dengan pola hormon negatif yang terkait dengan keadaan stres. Sikap emosi cenderung mengarah pada tingkat kekentalan darah yang lebih tinggi. Keadaan hormon dan darah sebagaimana dipicu sikap emosi ini berdampak buruk pada kesehatan. Raut wajah, daya hantar kulit, dan detak jantung termasuk yang juga diteliti ilmuwan dalam kaitannya dengan sikap tidak emosi. Sikap emosi memiliki tingkat penegangan otot alis mata lebih tinggi, daya hantar kulit lebih tinggi dan tekanan darah lebih tinggi. Sebaliknya, sikap tidak emosi meningkatkan pemulihan penyakit jantung dan pembuluh darah.

KONTROL DIRI!. Contohnya, ketika memikirkan sesuatu, atau berbicara tentang sesuatu hal, lalu tiba-tiba merasakan emosimu mulai naik, maka ‘alarm’ harus segera berbunyi untuk menyadarkan otak dan logika. Tujuannya agar tidak terlalu jauh terseret ke dalam amarah merasuki batin dan pikiran, gara-gara emosi yang timbul tadi. Segeralah, kamu memaafkan. Memaafkan segalanya, memaafkan semua orang, dan TERIMALAH.

“Sorry is the hardest word to say”. Begitulah sebuah kalimat terkenal untuk menggambarkan betapa sulitnya memberi dan meminta maaf. Bukan hanya memaafkan orang lain, terkadang memaafkan diri sendiri juga bukan perkara mudah. Dibutuhkan pengorbanan dan keberanian.
TERNYATA, bahwa belajar memaafkan memberikan banyak manfaat kesehatan, beberapa diantaranya adalah meningkatkan respon imun, menurunkan tekanan darah,meningkatkan kualitas tidur,mengurangi kecemasan dan depresi,meningkatkan harga diri, dan memberikan kamu ketenangan pikiran.

Poin-poin di atas hanya sebagian kecil manfaat yang ditawarkan kepada kita, dengan memaafkan orang lain. Jadi, mengapa kita tidak mencoba untuk menanamkan kebiasaan tersebut mulai dari sekarang untuk mendapatkan manfaat kesehatan yang begitu banyak.

Satu atau dua kejadian buruk di masa lalu janganlah sampai terus menghantui pikiran hingga mempengaruhi kehidupan kita saat ini. Lepaskanlah yang sudah berlalu. Petiklah pembelajaran dari setiap kejadian, khususnya hal-hal yang buruk pernah melalui kita. Yang lalu menjadi pembelajaran perbaikan kualitas diri dalam menghadapi tantangan berikutnya, karena hidup akan terus berjalan. Oleh karena itu, perlu untuk seseorang belajar memaafkan diri sendiri dan orang lain! karena akan banyak kerugian jika rasa emosi dan amarah serta penyesalan bergelayutan padadiri sendiri secara fisik dan mental.

RAMADHAN telah tiba ! waktunya untuk mulai mengenal diri kembali dan mengevaluasi kedekatan diri dengan sang Khalik dan hubungannya dengan Sobat-Sobat lainnya. Menjalin ukhuwah secara vertikal dan horisontal dalam Ramadhan ini akan menjadi ajang melatih diri untuk mengkontrol diri. Dari pola kebiasaan yang biasa dilakukan di bulan lain, seperti makan, berbicara dan masih banyak hal kemanfaatan dan kebaikan pada bulan Ramadhan ini.

Bagi Sobat Muslim, Selamat Menjalankan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan, semoga kita semua dapat memperbaiki kekurangan yang ada untuk meningkatkan kualitas menjadi tuan bagi diri sendiri dan bermanfaat bagi Sobat yang lain dan lingkungan...amiin.

Tetap Belajar dan Berbagi untuk Indonesia Lebih BAIK...Salam SOBAT!

Wicaksana, 2015

Minggu, 14 Juni 2015

BRAND IS ME

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamualaikum Wr. Wb. Dan Semangat Pagi SOBAT INDONESIA !

Sabtu pagi yang indah, di pagi itu saya telah melaju dengan roda dua saya untuk bergegas ke kampus. Jadwal kelas pagi telah menunggu. Karena pagi itu begitu indahnya, membuat laju motor saya seakan tertahan. Kecepatan yang stabil cenderung melenggang, ditemani udara pagi yang tak akan lama lagi akan berganti dengan asap knalpot.

Mata saya tertuju pada beberapa poster kandidat pemilihan wakil daerah atau yang dikenal dengan Pilkada. Poster didominasi dengan postur wajah mereka dan berbagai keunggulan yang membuat mereka “layak” untuk dipilih. Hmmmm....dipilih...dipilih....!

Wajah senyum dan rupawan mereka ditempelkan dengan paku di pohon, pagar-pagar, dinding-dinding yang banyak orang berkumpul sampai sampah pun berkumpul. Ada yang pakai baju serba putih, menunjukkan identitas keyakinan atau agama yang mereka anut, atau ada yang tampak menggunakan kaos kerah polo menunjukkan bahwa dirinya masih muda dan mewakili dinamisnya anak muda, ada juga yang menggunakan jas layaknya akan pergi sebuah pesta atau kondangan atau biartampak kondang, hmmm...apapun bentuk dan warna dan apapun...mereka itu terlihat sebagai pribadi-pribadi yang memiliki penuh harapan bagi masa depan dengan senyumnya yang terus menyeringai. Tanpa melihat bahwa disekitar poster yang melekat di pohon atau di dinding, terkadang sekitarnya ada bebetapa pengemis dan manusia gerobak yang akan meneruskan langkahnya, kemanapun untuk mencari rezeki mereka, atau tumpukkan sampah yang dibuang orang dengan sembarangan, sehingga mengakibatkan tampak berantakkan dan menimbulkan bau, namun poster mereka tetap tersenyum. Hihihi...terkadang mereka lupa untuk membuat atau mendisain poster yang lebih asertif, yaitu tampilan poster disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Sekedar usul saja kok!

Upaya – upaya yang mereka lakukan di atas merupakan aktifitas Branding, yaitu mengkomunikasikan Brand (merek) yang mereka miliki. Komunikasi adalah bagaimana pesan dapat tersampaikan dengan berbagai media atau saluran diharapkan adanya respon atau balikkan (feedback) dengan perilaku pemilih yang positif untuk memilih para calon atau kandidat dalam pilkada ini. Komunikasi akan semakin efektif juga didapatkan dari kekuatan brand itu sendiri. Menurut Simamora (2001), Brand adalah Merek adalah nama, tanda, istilah, simbol, desain atau kombinasinya yang ditujukan untuk mengidentifikasi dan mendiferensiasi (membedakan) barang atau layanan suatu penjual dari barang atau layanan penjual lain. hal yang serupa juga disampaikan oleh Kotler, Armstrong (2003), Brand adalah Merek adalah suatu nama, kata, simbol, tanda, atau desain, atau kombinasi dari semuanya yang mengidentifikasi pembuat atau penjual produk dan jasa tertentu. Jadi dari dua definisi tersebut di atas, tampak bahwa Brand itu sangat tergantung dengan yang namanya keunikan, atau ciri-ciri yang tidak dimiliki atau jarang yang dimiliki oleh orang lain. Biasanya dikaitkan dengan potensi kekuatan yang dimiliki sehingga bisa berkompetisi dalam memenangkan persaingan brand. Melihat kasus di atas dan berbagai kasus yang ada di sekitar kita dalam melakukan branding terhadap brand dirinya (self brand) banyak yang bukan melihat kekuatan potensi yang dimiliki sebagai pijakan kekuatan brand, justru melihat faktor eksternal yaitu keinginan atau harapan lingkungan terhadap brand yang dibutuhkan. Jadi sifatnya bukan unik, namun pasaran!

Kunci keberhasilan sebuah self brand adalah bagaimana bisa fokus menemukan potensi terbaik pada diri. Sehingga bisa memlah dibentuk konsep diri (self Concept)  yang terintegrasi antara mind, body and soul dengan kata lain adalah diri yang JUJUR!. Kekuatan sebuah Brand juga ditentukan dengan yang namanya konsistensi. Menampilkan secara berulang-ulang dalam waktu yang lama dan cenderung bertahan. Hal inilah yang membuat sebuah Brand dapat tampil beratus-ratus tahun lama usianya. Contoh pada Brand dagang seperti brand celana jeans, yaitu Levi’s. Sampai-sampai Brand ini digunakan sebagai kata ganti celana jeans. Demikian juga dengan Brand otomotif misal Honda. Sebagai produk salah satunya sepeda motor, Brand ini dikenal “kolot” dan “bandel” untuk mesinnya, sehingga awet dan jarang rewel, sehingga kata sepeda motor diganti dengan Honda. “mana Honda mu? (padahal sepeda motornya bukan merek Honda). Ini karena keunikan dan keunggulan yang mereka miliki mebuat mereka memiliki Brand yang ada di puncak pikiran (top of mind) konsumennya. Sekali lagi yang harus menjadi perhatian dalam membangun Brand agar menjadi top of mind dalam konteks yang positif membutuhkan waktu yang bertahun-tahun (lama) dan terus berkesimanbungan, so...tidak ada Brand yang dibangun cuma satu malam!

Sehingga sangat kuat sekali hubungan antara self brand dengan yang namanya self concept. Self concept menurut Atwater (1987) menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya. Menurut Stuatd and Sundeen ( 1998 ), konsep diri dibentuk dari lima komponen yaitu gambaran diri ( body image ), ideal diri ( ideal self ), harga diri ( self esteem ), peran diri ( self role ), identitas diri (self identity ). Sudah tidak diragukan lagi, Brand yang sengaja dicipta-ciptakan berdasarkan kepopuleran semata akan tidak bertahan lama dibandingkan dengan brand yang dibangun melalui pengenalan dan penerimaan diri serta berorientasi pada talenta dalam pengembangan diri di masa yang akan datang. Demikian juga dengan melakukan komunikasinya, akan semakin mudah melakukan branding dengan brand yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan pasar, namun...hmmm rasanya hambar dan cenderung akan cuma sesaat! karena yang sesaat (tidak memperhatikan proses) akan SESAT ! Berbeda denga Branding dengan melalui sebuah proses dan penguatan pada penemuan konsep diri dan talenta terbaik yang dimiliki serta dibangun dalam waktu yang tidak sebentar, butuh keuletan dalam komunikasinya. Dengan perbuatan yang mendatangkan kebermanfaatan buat orang lain dan lingkungannya.

Belajar dan berbagi untuk Indonesia lebih baik, Salam SOBAT


Wicaksana, 2015

Humanika Outbound Training - HOT

Contact Me