Corporate Presentation

Humanika Inc.

Rabu, 23 Juli 2014

ELEGI AKHIR SEBUAH PESTA


Semangat Pagi Sobat 1ndONEsia...senangnya bisa kembali ke format awal untuk tulisan Indonesia-nya. Legaaaaa... Jika saya gunakan pada saat beberapa waktu yang lalu, khawatirnya menunjukkan dukungan kepada calon presiden tertentu.

Pesta telah terlihat usai. Seperti pada kebanyakan pesta, wajah-wajah orang-orang yang terlibat dalam pesta beraneka ragam, ada tampak senyum puas akan pesta yang telah diadakan dan ada juga dengan wajah masam dan kecewa akan pesta yang telah berlangsung tersebut. Lumrah dan wajar...demikianlah PESTA!

Namun ada hal yang menjadi penting dan terkadang sering dilupakan bahwa, akhir dari sebuah pesta adalah banyaknya “sampah” berserakan di sekitar areal pesta. Karena semua orang beranggapan pesta adalah menjadi puncak dan tujuan dari kegiatan itu sendiri. Sehingga dampak dari sebuah pesta tidak banyak diperhitungkan. Hebatnya, sampah itu tidak pernah dibersihkan dengan baik dari antara Pesta satu ke Pesta lainnya. Tak ayal lagi, Pesta yang akan datang pun dapat menjadi “Pesta Sampah”, karena tidak diselesaikan dengan baik permasalahan sampaj yang ada.

Bicara perilaku membuang sampah sembarangan, memang terlihat “kecil” namun jika dilakukan oleh 120 juta penduduk negara Sketsa, ini menjadi masalah lain. “Nyampah” ini merupakan salah satu jenis penyakit menular dan bahkan bisa diturunkan. Sehingga perlu diwaspadai, apakah dalam darah dan DNA masyarakat negeri Sketsa terjangkit atau mengandung “sampah”. Waspadalah! Karena perilaku kita bisa menjadi perilaku sampah, yaitu perilaku yang merugikan orang lain dan lingkungan.

Permasalahan Sampah dan Perilaku hanya dapat dibenahi dengan keteladanan dan pendidikan. Bicara mengenai pendidikan, jelas kita bicara bukan hanya sekolah, namun yang utama adalah pendidikan dalam keluarga. Sebagian besar keluarga di negara Sketsa menyerahkan pendidikan hanya kepada pihak sekolah. Padahal jika kita melihat pendidikan di negara tetangga negeri Sketsa ini, misalnya orang tuanya mau sekolah saja, pasti ditanyakan, apakah ada anak, dan siapa yang bersama anak jika kita di sekolah. Bagi mereka (negara di luar negri Sketsa), anak merupakan aset penting sebagai calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang, sehingga harus diperlakukan dengan tepat, agar tidak menjadi “sampah-sampah” dikemudian hari.

Pada hari anak ini, mengingatkan pada semua pihak, bahwa pendidikan merupakan hal yang penting untuk keberlangsungan peradaban di negara Sketsa ini. Hilangkan konotasi pendidikan dengan mahal dan sekolah. Pendidikan adalah kesadaran kita untuk membangun keteladanan atas prilaku-prilaku keseharian kita dalam berkarya dan menciptakan banyak kebaikan untuk sesama dan lingkungan. Pendidikan yang efektif adalah berasal dari TINDAKAN bukan sekedar KATA-KATA. Karena anak-anak kita itu adalah observer yang hebat atas perilaku orang-orang (tua) di sekitarnya.

Makin terhimpitnya ruang imajinasi sebaya, permainan anak-anak yang menjelma menjadi permainan yang dimainkan oleh orang dewasa, ruang gerak hanya sebatas program acara TV yang terbatas untuk mereka, matrialistis menjadi simbol kebanggaan bagi anak-anak dibandingkan keceriaan dan ketulusan. Lingkungan telah “mengkerdilkan” kebesaran hati anak-anak. Diperparah dengan menjadi yatim dan piatu secara psikologis, yaitu ada orang tua namun fungsi dan peran mereka hanya sebatas pendapat dan pengumpul rupiah. Jika sudah tidak memiliki kepedulian untuk anak-anak, jangan pernah berharap integitas akan terbangun pada mereka di masa yang akan datang. Anak-anak ini akan menggunakan “kedok” kekanakan mereka untuk “buas” memanipulatif orang-orang lainnya. Dengan mengatasnamakan “penderitaan” yang mereka alami, mereka menuntut fasilitas-fasilitas yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan usianya. Anak-anak ini makin jauh tenggelam dalam keasyikannya dalam “E-kesendirian” mereka. Mereka dibesarkan dan belajar dari orang lain yang bukan orang tuanya, bukan lingkungannya, bukan budayanya, dan juga bukan keyakinannya! Tersesat! Fungsi dan peran para penuntunnya yang alfa atau sengaja alfa, dengan alasan untuk berlomba mendapatkan apa yang mereka inginkan bukan yang keluarga inginkan. Keluarga adalah harta itu sendiri. Sehingga sangat tidak tepat mengabaikan harta yang telah ada, untuk mendapatkan harta-harta yang lain, yang mungkin belum tentu dibutuhkan oleh keluarga.

Sangatpantaslah jika bercemas terhadap anak-anak di Negara Sketsa, mereka adalah tanggungjawab kita bersama. Sudah saatnya kita peduli dengan anak-anak kita, artinya kita peduli akan keberlangsungan peradaban negara Sketsa untuk di masa yang akan datang. “Keberhargaan” mereka terjaga hingga di masa yang akan datang. Bukan sampah-sampah yang berserakan atas negara Sketsa yang suka ber-pesta dengan perilaku sampah pada saat mempersiapkan, menyelenggarakan, apalagi tidak peduli ketika pestanya telah berakhir.

Ini Indonesia Bung!, BUKAN Negeri Sketsa, dari sejarah panjang dan peradabannya Indonesia merupakan bangsa yang memiliki peradaban yang luhur dan sangat disegani seluruh bangsa di dunia. Saya berkeyakinan bahwa Bangsa Indonesia akan lebih mampu menghadapi tantangan untuk anak-anak bangsanya tanpa meninggalkan keluhuran peradaban yang dimilikinya. Bangga menjadi anak Indonesia, dan menjadi bagian dalam membangun anak-anak bangsa berkarakter luhur di bawah panji-panji Merah Putih!


SEBUAH PERADABAN, selalu DIMULAI dari diri kita sendiri... untuk 1ndONEsia lebih BAIK!

Selasa, 15 Juli 2014

Revolusi Karakter !



Semangat Pagi SOBAT Indonesia !

Kembali "mengudara" kembali....di tengah-tengah kepadatan "lalu-lintas" pekerjaan. Mulai terasa sudah dapat melihat kembali. setelah beberapa hari ini, pandangan tidak lebih dari 30 cm di depan layar monitor laptop saya...hehehehe, banyaknya sih main social media...kkk, update status dan memantai pilpres dan pildun...

Lega rasanya melihat "udara" social media yang kembali ceria...setelah padat dengan maraknya "pertikaian" sengit. Senangnya...

Melanjutkan diskusi kita beberapa waktu yang lalu, yaitu apa yang harus kita lakukan setelah dapat berpikir KRITIS ! biasanya kita dapat berpikir KRITIS pada saat-saat yang KRITIS lho...pengalaman saja. Namun, dalam Paradigma SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat, Pengalaman adalah Musuh !. Justru yang baru saya sampaikan tadi harusnya di HINDARI !. Sehingga namanya berpikir KRITIS bukan pada saat kefefet..namun memang sudah menjadi KARAKTER ! 

Membangun sebuah karakter bukanlah pekerjaan yang mudah dan membutuhkan semangat dan perjuangan yang luar biasa. Tantangan yang luar biasa akan ditemui jika lingkungan dimana kita berada tidak mendukung semangat dan keinginan kita untuk belajar dan berprestasi. Begitu derasnya arus yang berlawanan dengan semangat kita membuat diri terkadang harus menerima hal-hal yang jauh dari harapan. Kejadian seperti ini tidak hanya ditemui sekali saja, namun akan berkali-kali. Pertanyaannya apakah kita mampu bertahan dan selamat dari arus yang sangat deras? Dan kalau bisa selamat caranya seperti apa? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat kita harus bersiap diri dengan mental set yang baik. Dalam SOBAT – Semua Orang Bisa Hebat ada tiga pondasi nilai, yaitu Integrity, Abundance Mentality dan Maturity. Membangun keyakinan (belief system) erat sekali hubungannya dengan mental set atau bagaimana seseorang memahami dan mengintepretasi gejala-gejala yang ada disekitarnya dan diyakini mampu adaptif dari situasi yang ada. Keberhasilan demi keberhasilan membuahkan keyakinan dari tindakan yang dilakukan secara terus menerus (Habit-Character-Belief).

Mundur jauh sebelum kita dilahirkan. Ada proses pembuahan dari sperma ke indung telur. Berjuta-juta sel sperma berjuang untuk mencapai indung telur, banyak korban yang berjatuhan karena kondisi dan kualitas sperma itu sendiri. Namun perjuangan yang dilakukan tersebut membuahkan hasil. Dari berjuta-juta sel sperma hanya satu yang mampu untuk menembus lapisan dari indung telur. Dan pemenangnya adalah kita yang saat ini masih tetap berkarya. Namun terkadang kita tidak menghargai apa yang telah terjadi tersebut, terkadang kita menjadi seorang pengecut, mudah kalah, gampang menyerah, mengeluh dan bahkan justru mendatangkan gangguan dan merusak orang lain dan lingkungan sekitarnya. Ilustrasi ini saya dapatkan dari rekan saya, AA Uyo (Surjo Sulaksono), ketika menghadiri pelatihan beliau.

Bagaimana kita dapat bertahan dan bermanfaat. Kita harus menghargai dan bersyukur akan kehadiran diri di dunia ini. Mengenali diri sendiri dan membangun karakter Integritas. Akan mengalami banyak kendala dalam membangun subuah integritas jika kita tidak mengetahui kemampuan diri dan tujuan hidup kita. Kenali Potensi dan mengembangkan kompetensi melalui belajar untuk mendapatkan karya-karya terbaik. Integritas merupakan sebuah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Kenalilah semua yang ada dalam diri untuk menjadi diri-diri yang memegang teguh INTEGRITAS.

Mengembangkan sikap bersyukur sama diri berarti mengembangkan mental set Abundance. Dengan memiliki mentalitas ini akan dapat melihat dunia memang tercipta untuk kita, dan bagaimana kita sebagai manusia mengelolanya dengan bijaksana. Dengan mentalitas keberlimpahruahan akan membuat diri menjadi lebih kreatif dan inovatif. Selalu mengedepankan win-win dalam setiap pemecahan masalahnya. Dan terbangun sikap tidak mudah menyerah dalam setiap tindakan dalam mencapai tujuan. Tujuan adalah hasil, sedangkan proses merupakan hal yang utama dalam pencapaian hasil tersebut.

Terakhir adalah membangun sikap Maturity atau kedewasaan. Kedewasaan tidak terkait dengan usia. Namun manusia kembali kepada fitrahnya sebagai pemimpin dan makhluk sosial. Yang dikatakan pemimpin adalah memiliki rasa tanggung jawab terhadap semua perbuatannya. Tidak ada lagi jurus “lempar batu sembunyi tangan” atau istilah “kambing hitam”, yang berlaku adalah hukum alam “siapa yang menanam, dia yang akan menuainya” dan juga berlaku hukum kekekalan energi “energi tidak dapat dimusnahkan namun berubah bentuk”, jika menanam energi negatif akan menuai energi negatif juga. Berlomba-lombalah dalam kebaikan…,Panen Raya KEBAIKAN akan segera tiba.

Manusia sebagai makhluk sosial, bahwa manusia satu akan membutuhkan manusia lainnya. Jadi membangun konsep synergi akan mendatangkan banyak manfaat dan kemudahan dalam pencapaian hasil yang lebih baik dan cepat. Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri acara outbound sebuah perusahaan. Permainan sederhana seperti “pipa bocor” menbuat saya tersadar betapa pentingnya membangun sebuah synergi. Pada saat itu dibagi dalam 3 kelompok yang masing-masingnya mendapat tugas yang sama. Sudah 1 jam lebih tidak ada yang mampu menyelesaikan tugas mengeluarkan bola dari dalam pipa bocor tersebut, segala daya dan upaya, hingga semua pakaian yang mereka gunakan menjadi penyumbat lubang-lubang tersebut. Mereka masih belum menyadari bahwa jika tugas dilakukan sendiri tidak menuai hasil yang baik. Namun ada salah seorang yang mencoba untuk bernegosiasi dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Dan akhirnya mereka bersatu. Dalam hitungan menit, bola pun sudah dapat keluar dari bibir pipa tersebut. LUAR BIASA !! se-super apapun orangnya…ia tetap akan membutuhkan orang lain dalam berkarya.., BERSATU KITA TEGUH, BERCERAI KITA RUNTUH.

Semua diri memiliki potensi untuk HEBAT, Semua Orang Bisa Hebat – SOBAT, jadilah bagian dari SOBAT BISA !! kita terlahir sebagai Champion, berpikir, berkata dan bertindak lah layaknya sebagi seorang PEMENANG.., Saya BISA !!

Tetap Belajar dan Berbagi untuk Indonesia yang lebih baik. Salam SOBAT ! 

wicaksana (c) 2014 Nawi-Jakarta

Humanika Outbound Training - HOT

Contact Me