Corporate Presentation

Humanika Inc.

Jumat, 22 Agustus 2014

Menjadi REMAJA

Semangat Pagi SOBAT IndONEsia!...senang bertemu kembali dalam tulisan berikut ini. Seorang sahabat dan partner dalam pekerjaan dan bisnis dan beliau juga seorang guru, guru piano dan juga pemerhati Remaja berbagi tentang pengalamannya dalam mengelola remaja. 

Alhamdulillah saya pribadi telah melewati masa remaja saya, namun sepertinya jiwa remajanya tetap "exist" ! hehehehe...saya akui, penulis ini adalah pribadi yang "matang" dan piawai dalam mengembangtkan SDM khususnya remaja. Mari kita simak tips berdasarkan pengalaman beliau terkait bagaimana menjadi REMAJA.

Menjadi seorang yang baik tentu sangat diidam-idamkan oleh semua orang, selain itu agar untuk melakukan pencegahan agar tidak terjadi maslah didalam masyarakat maka seorang individu perlu memiliki sifat-sifat agar menjadi pribadi yang baik. Bagaimana sih agar kita menjadi sesorang yang memiliki kepribadian yang baik?
Berikut sepuluh sifat yang harus dimiliki oleh seseorang yang berkepribadian baik:

1.Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta.  Prinsipnya “ya diatas ya dan tidak diatas tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2. Rendah hati
Beda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, rendah hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan                  
kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yg setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. Bersikap positif
Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam.

5. Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau merasa kecewa dan sakit hati, tidak akan menyalahkan siapapun. Selalu menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.


7. Kepercayaan diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Orang yang percaya diri tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. Kebesaran jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Easy going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. Empaty
Empati adalah sifat yg sangat mengagumkan. Orang yg berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik, selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Tips Berteman yang baik     
                             
Zaman sekarang teman sejati masih ada nggak ya? Jika kamu belum pernah menemukan teman yang sangat kamu sukai, awalilah dengan menjadi seorang bisa disukai teman-temanmu. Kita intip dulu tips berikut ini:

1. Jadilah pendengar yang baik buat teman-temanmu. Jangan pernah sekalipun bersikap menggurui. Memberi nasihat boleh-boleh aja, tapi jangan melakukannya dengan cepat. Pelahan-lahan namun pastikan temanmu itu mendengarkannya.

2. Setiap orang memiliki pribadi yang unik dan khas. Cobalah mengerti bagaimana karakter temanmu. Hormatilah pendapatnya. Walau kadang kalian bisa saling berbeda pendapat dan keyakinan, namun pasti ada jalan tengah yang bisa ditempuh asal jangan tergesa-gesa memutuskannya.

3. Peliharalah kepercayaan yang telah diberikan oleh teman dekatmu itu. Jangan pernah sekali-kali kamu mengobral rahasia temanmu pada orang lain. Saling jaga rahasia, anggap saja antara kalian ada sebuah permainan yang hanya bisa dimainkan oleh kamu dan temanmu.

4. Berilah dukungan dan pujilah temanmu, kesampingkan kesalahannya dan kelemahannya.

5. Jangan pernah merasa iri kepada temanmu. Kebahagiaannya adalah bahagia milikmu juga. Ikut berbahagialan atas keberhasilan temanmu.

6. Dekat bukan berarti harus tergantung satu sama lain. Berikan pertolongan secukupnya. Jagalah ‘jarak’ yang wajar. Mundurlah sedikit bila kita merasa pertemanan sudah terlampau dekat. Sebaliknya, mendekatlah kala kita merasa pertemanan sudah semakin renggang.

7. Sisihkan waktu untuk melakukan kegiatan refresing bersama. Kembangkan sikap toleransi, fleksibilitas, asertive, empati dan belajar saling memahami.

8. Jangan pernah ragu untuk minta maaf pada temanmu saat kamu melakukan sebuah kesalahan padanya. Setelah itu berusahalah perbaiki kesalahanmu. Begitu pula sebaliknya, berikan maaf dan lupakan kesalahannya jika ia bersalah.

http://www.slideshare.net/wicaksana/competence-and-trustworthiness


(c) 2014 Yan Geranit, S.Psi, MM (Partner of www.humanikaconsulting.com)

Senin, 18 Agustus 2014

DETIK-DETIK HARI KEMERDEKAAN


Semangat Pagi Sobat IndONEsia...!


Senang kembali bertemu dengan SOBAT di media silaturahim seperti ini, di dunia maya. Memang sudah tidak ada berkas-berkas yang kasat mata di meja kerja atau di meja makan. Namun berkas-berkas di dalam pikiran semakin berkecamuk dan berantakan ! sepertinya semua kejadian dituangkan saat bersamaan dengan melalui satu pintu, pfff....padat dan berdesakkan! Baiklah..sedikit dengan bantuan helaan nafas yang teratur, mulai menata hal-hal yang akan dikeluarkan. Maklumlah, saat ini sudah MERDEKA...semua ide di dalam kepala menuntut ke-MERDEKA-annya untuk disampaikan, haiyaaa.

Teringat pada siang hari di sudut selatan Jakarta, di sebuah kampus swasta, terdengar atau curi dengar perbincangan mahasiswa.  “merdeka euy....” kata seorang mahasiswa, “merdeka apanya? “ tanya teman mahasiswa yang satunya tadi, sambil menatap penasaran.  “ada apa sih?” tanyanya lagi. “pokoknya...hari ini kita bisa merdeka cuy”  katanya. “merdeka apa Sob?!” tanya temannya, “apakah hari ini tidak ada dosennya?...terdiam dan “Yes!!!” teriaknya.  MERDEKAAA!

Ketika itu, lampu merah pada sebuah lampu lalu lintas dibilangan wilayah bekasi, menyala. Perjalanan menuju pulang ke kantor pun terhenti sesaat. Herannya, mobil di belakang mobil kami terus membunyikan klaksonnya. Kami hanya heran!...”kan masih merah, kan artinya saatnya hak orang lain untuk melalui jalan di depan kami! Namun kenapa begitu semangatnya mobil di belakang kami membunyikan klaksonnya secara terus menerus?!” kemudian saya melihat ke kaca spion “ah bukan mobil ambulance atau polisi pula, hanya sebuah TAXI.” Sekitar tiga menit kemudian lampu hijau pun menyala. Saatnya kendaraan kami berjalan. Sambil geleng-geleng, apakah ini sebuah makna KEMERDEKAAN. Sesuka dan semaunya?

Training pada saat itu sedang berjalan. Ketika sedang berdiskusi dengan teman-teman peserta pelatihan, ada ketukan pintu kelas. Salah seorang peserta pelatihan membuka pintu kelas tersebut. Ternyata rekan kurir saya yang terlihat bingung. Sambil menggerakkan bibirnya dengan suara yang pelan. Sambil meminta saya untuk mengikuti dirinya ke luar kelas. “hmmm..ada sesuatu yang penting rupanya” pikir saya. Segera saya mengikuti keinginannya. Sambil berjalan bersama dirinya menuju pintu utama kantor untuk keluar kantor, “Pak...motor Bapak dan Motor teman kita, DICURI!”. Mendengar itu, segera saya bergegas untuk melihat tempat motor saya diparkir. Memang sudah tidak ada! “ada lagi motor yang hilang?!” tanya saya. “Tidak Pak, Punya Bapak dan Punya Rekan Bapak”. Alhamdulillah....karena di depan kantor sedang penuh sahabat-sahabat yang sedang berbagi pengetahuan dan pengalamannya di kantor saya dengn membawa kendaraan roda duanya. Apakah ini juga makna dari sebuah KEMERDEKAAN, merdeka untuk mengambil yang bukan punya haknya dengan mengatasnamakan kesulitan hidup!

Mundur beberapa saat sebelum kejadian motor saya yang hilang ini, dalam perjalanan menuju kantor saya bertanya dengan diri saya sendiri. “ kenapa tanggal 17 Agustus itu dinamakan hari kemerdekaan.  Jika dilihat dari kamus bahasa Indonesia, merdeka sebagai kata sifat, berarti “bebas” atau dalam bahasa Inggris adalah free. Jika kita melihat bahasa inggris, independence Day. Menggunakan kata independence untuk memaknai keberhasilan terbebas dari belenggu penjajahan untuk menuju ke kemandirian. Sehingga jika dirasa-rasa, merdeka dan independence punya makna yang berbeda. Sehingga dapat menyebabkan perilaku yang berbeda juga. Merdeka diasosiasikan dengan kebebasan yang ta terbatas, sedangkan independence diarahkan pada kemandirian, dimana dalam sebuah kemandirian terdapat kebebasan yang bersifat terbatas pada tujuan yang bagaimana dalam perjalanan kedepannya dirinya mandiri untuk menjadi “seseorang”.

Jika kita meyakini bahwa perbuatan kita saat ini berhubungan dengan budaya, dan tulisan hingga kata merupakan bagian dari budaya, sehingga memaknai dan meresapi sebuah makna pada sebuah kata akan membawa perilaku kita kepada kata tersebut.

Harapan-harapan dan berbagai doa dilayangkan untuk masa depan bangsa ini untuk menuai kebesarannya dan keemasannya kembali seperti dulu kala. Dimana bangsa Indonesia pernah menjadi pusat peradaban bangsa-bangsa di seluruh dunia terkait dengan keluhuran perilaku dan moralnya, ilmu seni, ilmu teknik perkapalan, arsitektur dan sebagainya. Indonesia menjadi kiblat dunia. Bukan hanya jaman kerajaan Majapahit dan Sriwijaya saja, jauh sebelum masehi dan awal peradaban, bangsa Indonesia banyak memainkan peran yang penting dalam banyak karya-karyanya.

Apakah dengan kata MERDEKA, secara cepat dan pasti kita masuk ke jaman KEGELAPAN ? dengan ciri-ciri, merosotnya akhlak,ilmu dan pengetahuan dan ketrampilan anak bangsa kita. Hal ini akan tidak sejalan dengan dunia Barat yang memang pernah masuk era kegelapan dan sudah masuk ke era pencerahan hingga saat ini, ditunjukkan dengan peradaban yang tinggi, dan banyaknya orang-orang bangsa lain yang ingin bersekolah di barat. Atau Cina yang tidak pernah mengalami era kegelapan, karena ketrampilan sastra dan menulisnya yang tinggi, sehingga Cina tidak pernah mengalami masa kegelapan. Kuncinya adalah antusias dalam berkarya di dunia pendidikan. Bagaimana mengentaskan pendidikan Indonesia ke arah yang mencerahkan. Kebobrokan demi kebobrokan karena dipicu dengan kemalasan yang kemudian diikuti dengan kebodohan. Dan saat inilah yang terjadi dengan bangsa Indonesia.


Kita sebagai individu dan anak bangsa, masih sangat dibutuhkan untuk “menggenjot” karya-karya terbaik khususnya membangun pendidikan yang terbaik di negeri ini sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi apa lagi ditunda-tunda. BOS dan dana yang tinggi bukan jaminan dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Pendidikan berawal dari keluarga. Marilah kita pulang..mulailah kita memainkan peran semestinya di dalam pendidikan keluarga. Jangan sampai anak-anak kita menjadi yatim secara psikologis, orang tuanya masih ada, namun mereka sudah tidak dapat melihat sosok orang tuanya karena lasan sebagai mesin pemenuh kebutuhan hidup. Sukses berawal dari Rumah. Pendidikan terbaik bukan sekolah tinggi dengan berbagai title yang dimiliki, namun pendidikan yang dilandasi rasa cinta dan kasih serta sayang keapda generasi-generasi yang akan datang dengan dibekali kemandirian akhlak, pengetahuan dan ketrampilan,  ditangan merekalah, Indonesia ini akan semakin baik dan mengembalikan kejayaan bangsa IndONEsia. DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-69 ! (c) 2014 Wicaksana, Pondok Cabe. 

Humanika Outbound Training - HOT

Contact Me