Humanika Inc.

Kamis, 13 Agustus 2015

RIWAYAT KI AGENG SURYOMENTARAM

PANGERAN YANG KECEWA

Pada tahun 1892, tepatnya pada tanggal 20 Mei tahun tersebut, seorang jabang bayi terlahir sebagai anak ke-55 dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII, sultan yang bertahta di kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jabang bayi tersebut diberi nama BRM (Bendara Raden Mas) Kudiarmadji. Ibundanya bernama BRA (Bendara Raden Ayu) Retnomandoyo, putri Patih Danurejo VI yang kemudian bernama Pangeran Cakraningrat. Demikianlah, BRM Kudiarmadji mengawali lelakon hidupnya di dalam kraton sebagai salah seorang anak Sri Sultan yang jumlah akhirnya mencapai 79 putera-puteri.
Seperti saudara-saudaranya yang lain, Bendara Raden Mas Kudiarmadji bersama-sama belajar di Sekolah Srimanganti di dalam lingkungan kraton. Tingkat pendidikan sekolah ini kurang lebih sama dengan sekolah dasar sekarang. Selepas dari Srimanganti, dilanjutkan dengan kursus Klein Ambtenaar, belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Arab. Setelah selesai kursus, bekerja di gubernuran selama 2 tahun lebih.
BRM Kudiarmadji mempunyai kegemaran membaca dan belajar, terutama tentang sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama. Pendidikan agama Islam dan mengaji didapat dari K.H. Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Ketika menginjak usia 18 tahun, Bendara Raden Mas Kudiarmadji diangkat menjadi pangeran dengan gelar Bendara Pangeran Harya Suryomentaram.
Tahun demi tahun berlalu, pena kehidupan mulai menuliskan kisahnya. Sedikit demi sedikit Pangeran Suryomentaram mulai merasakan sesuatu yang kurang dalam hatiya. Setiap waktu ia hanya bertemu dengan yang disembah, yang diperintah, yang dimarahi, yang dimintai. Dia tidak puas karena merasa belum pernah bertemu orang. Yang ditemuinya hanya sembah, perintah, marah, minta, tetapi tidak pernah bertemu orang. Ia merasa masygul dan kecewa sekalipun ia adalah seorang pangeran yang kaya dan berkuasa.
KABUR
Dalam kegelisahannya, pada suatu ketika Pangeran Suryomentaram merasa menemukan jawaban bahwa yang menyebabkan ia tidak pernah bertemu orang, adalah karena hidupnya terkurung dalam lingkungan kraton, tidak mengetahui keadaan di luar. Hidupnya menjadi sangat tertekan, ia merasa tidak betah lagi tinggal dalam lingkungan kraton. Penderitaannya semakin mendalam dengan kejadian-kejadian berturutan yang menderanya, yaitu:
  1. Patih Danurejo VI, kakek yang memanjakannya, diberhentikan dari jabatan patih dan tidak lama kemudian meninggal dunia.
  2. Ibunya dicerai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan dikeluarkan dari kraton, kemudian diserahkan kepada dirinya.
  3. Istri yang dicintainya meninggal dunia dan meninggalkan putra yang baru berusia 40 hari.
Rasa tidak puas dan tidak betah makin menjadi-jadi sampai pada puncaknya, ia mengajukan permohonan kepada ayahanda, Sri Sultan Hamengku Buwono VII, untuk berhenti sebagai pangeran, tetapi permohonan tersebut tidak dikabulkan. Pada kesempatan lain ia mengajukan permohonan untuk naik haji ke Mekah, namun ini pun tidak dikabulkan. Karena sudah tidak tahan lagi, diam-diam ia meninggalkan kraton dan pergi ke Cilacap menjadi pedagang kain batik dan setagen (ikat pinggang). Di sana ia mengganti namanya menjadi Notodongso.
Ketika berita perginya Pangeran Suryomentaram ini didengar oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII, maka Sultan memerintahkan KRT Wiryodirjo (Bupati Kota) dan R.L. Mangkudigdoyo, untuk mencari Pangeran Suryomentaram dan memanggil kembali ke Yogyakarta. Setelah mencari-cari sekian lama, akhirnya ia ditemukan di Kroya (Banyumas) sedang memborong mengerjakan sumur.

PULANG
Pangeran Suryomentaram kembali ke Yogyakarta meskipun sudah terlanjur membeli tanah. Mulai lagi kehidupan yang membosankan, setiap saat ia selalu mencari-cari penyebab kekecewaan batinnya. Ketika ia mengira bahwa selain kedudukan sebagai pangeran, penyebab rasa kecewa dan tidak puas itu adalah harta benda, maka seluruh isi rumah dilelang. Mobil dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada sopirnya, kuda dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada gamelnya (perawat kuda), pakaian-pakaiannya dibagi-bagikan kepada para pembantunya.
Upayanya itu ternyata tidak juga menghasilkan jawaban atas kegelisahannya, ia tetap merasa tidak puas, ia merindukan dapat bertemu orang. Hari-hari selanjutnya diisi dengan keluyuran, bertirakat ke tempat-tempat yang dianggap keramat seperti Luar Batang, Lawet, Guwa Langse, Guwa Cermin, Kadilangu dan lain-lain. Namun rasa tidak puas itu tidak hilang juga. Ia makin rajin mengerjakan shalat dan mengaji, tiap ada guru atau kiai yang terkenal pandai, didatangi untuk belajar ilmunya. Tetap saja rasa tidak puas itu menggerogoti batinnya. Kemudian dipelajarinya agama Kristen dan theosofi, ini pun tidak dapat menghilangkan rasa tidak puasnya.
BEBAS
Pada tahun 1921 ketika Pangeran Suryomentaram berusia 29 tahun, Sri Sultan Hamengku Buwono VII mangkat. Dia ikut mengantarkan jenazah ayahandanya ke makam Imogiri dengan mengenakan pakaian yang lain daripada yang lain. Para Pangeran mengenakan pakaian kebesaran kepangeranan, para abdi dalem mengenakan pakaian kebesarannya sesuai dengan pangkatnya, Pangeran Suryomentaram memikul jenazah sampai ke makam Imogiri sambil mengenakan pakaian kebesarannya sendiri yaitu ikat kepala corak Begelen, kain juga corak Begelen, jas tutup berwarna putih yang punggungnya ditambal dengan kain bekas berwarna biru sambil mengempit payung Cina.
Dalam perjalanan pulang ia berhenti di Pos Barongan membeli nasi pecel yang dipincuk dengan daun pisang, dimakannya sambil duduk di lantai disertai minum segelas cao. Para pangeran, pembesar, maupun abdi dalem yang lewat tidak berani mendekat karena takut atau malu, mereka mengira Pangeran Suryomentaram telah menderita sakit jiwa, namun ada pula yang menganggapnya seorang wali.
Setelah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dinobatkan sebagai raja, Pangeran Suryomentaram sekali lagi mengajukan permohonan berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran, dan kali ini dikabulkan.
Pemerintah Hindia Belanda memberikan uang pensiun sebesar f 333,50 per bulan, tetapi ditolaknya dengan alasan ia tidak merasa berjasa kepada pemerintah Hindia Belanda dan tidak mau terikat pada pemerintah Hindia Belanda. Kemudian Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memberikan uang f 75 per bulan hanya sebagai tanda masih keluarga kraton. Pemberian ini diterimanya dengan senang hati.
Setelah berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran ia merasa lebih bebas, tidak terikat lagi. Namun segera ia menyadari bahwa ia masih tetap merasa tidak puas, ia masih belum juga bertemu orang.
Suryomentaram yang bukan pangeran lagi itu kemudian membeli sebidang tanah di desa Bringin, sebuah desa kecil di sebelah utara Salatiga. Di sana ia tinggal dan hidup sebagai petani. Sejak itu ia lebih dikenal dengan nama Ki Gede Suryomentaram atau Ki Gede Bringin. Banyak orang yang menganggap ia seorang dukun, dan banyak pula yang datang berdukun.
PERJUANGAN MORAL
Meskipun Ki Gede Suryomentaram sudah tinggal di Bringin, tetapi ia masih sering ke Yogya. Di Yogya ia masih mempunyai rumah.
Waktu itu Perang Dunia I baru selesai. Ki Gede Suryomentaram dan Ki Hadjar Dewantara beserta beberapa orang mengadakan sarasehan setiap malam Selasa Kliwon dan dikenal dengan nama Sarasehan Selasa Kliwon. Yang hadir dalam Sarasehan Selasa Kliwon itu ada 9 orang, yaitu:
  1. Ki Gede Suryomentaram,
  2. Ki Hadjar Dewantara,
  3. Ki Sutopo Wonoboyo,
  4. Ki Pronowidigdo,
  5. Ki Prawirowiworo,
  6. BRM Subono (adik Ki Gede Suryomentaram),
  7. Ki Suryodirjo,
  8. Ki Sutatmo, dan
  9. Ki Suryoputro.
Masalah yang dibicarakan dalam sarasehan itu adalah keadaan sosial-politik di Indonesia. Kala itu sebagai akibat dari Perang Dunia I yang baru saja selesai, negara-negara Eropa, baik yang kalah perang maupun yang menang perang, termasuk Negeri Belanda, mengalami krisis ekonomi dan militer. Saat-saat seperti itu dirasa merupakan saat yang sangat baik bagi Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda.
Pada awalnya muncul gagasan untuk mengadakan gerakan fisik melawan Belanda, tetapi setelah dibahas dengan seksama dalam sarasehan, disimpulkan bahwa hal itu belum mungkin dilaksanakan karena ternyata Belanda masih cukup kuat, sedangkan kita sendiri tidak mempunyai kekuatan. Kalau kita bergerak tentu akan segera dapat ditumpas.
Sekalipun gagasan perlawanan fisik tersebut tidak dapat terwujud, namun semangat perlawanan dan keinginan merdeka tetap menggelora. Dalam sarasehan bersama setiap Selasa Kliwon itu akhirnya disepakati untuk membuat suatu gerakan moral dengan tujuan memberikan landasan dan menanamkan semangat kebangsaan pada para pemuda melalui suatu pendidikan kebangsaan. Pada tahun 1922 didirikanlah pendidikan kebangsaan dengan nama Taman Siswa. Ki Hadjar Dewantara dipilih menjadi pimpinannya, Ki Gede Suryomentaram diberi tugas mendidik orang-orang tua.
Dalam Sarasehan Selasa Kliwon inilah, sebutan Ki Gede Suryomentaram dirubah oleh Ki Hadjar Dewantara menjadi Ki Ageng Suryomentaram.
PENCERAHAN
Setelah menduda lebih kurang 10 tahun, pada tahun 1925 Ki Ageng kawin lagi, kemudian beserta keluarga pindah ke Bringin. Rumahnya yang di Yogya digunakan untuk asrama dan sekolah Taman Siswa.
Pada suatu malam di tahun 1927, Ki Ageng membangunkan isterinya, Nyi Ageng Suryomentaram, yang sedang lelap tidur, dan dengan serta merta ia berkata, “Bu, sudah ketemu yang kucari. Aku tidak bisa mati!” Sebelum Nyi Ageng sempat bertanya, Ki Ageng melanjutkan, “Ternyata yang merasa belum pernah bertemu orang, yang merasa kecewa dan tidak puas selama ini, adalah orang juga, wujudnya adalah si Suryomentaram. Diperintah kecewa, dimarahi kecewa, disembah kecewa, dimintai berkah kecewa, dianggap dukun kecewa, dianggap sakit ingatan kecewa, jadi pangeran kecewa, menjadi pedagang kecewa, menjadi petani kecewa, itulah orang yang namanya Suryomentaram, tukang kecewa, tukang tidak puas, tukang tidak kerasan, tukang bingung. Sekarang sudah ketahuan. Aku sudah dapat dan selalu bertemu orang, namanya adalah si Suryomentaram, lalu mau apa lagi? Sekarang tinggal diawasi dan dijajagi.
Sejak itu Ki Ageng kerjanya keluyuran, tetapi bukan untuk bertirakat seperti dulu, melainkan untuk menjajagi rasanya sendiri. Ia mendatangi teman-temannya untuk mengutarakan hasilnya bertemu orang – bertemu diri sendiri. Mereka pun kemudian juga merasa bertemu orang – bertemu diri sendiri masing-masing.
Setiap kali bertemu orang (diri sendiri) timbul rasa senang. Rasa senang tersebut dinamakan “rasa bahagia”, bahagia yang bebas tidak tergantung pada tempat, waktu, dan keadaan.
Pada tahun 1928 semua hasil “mengawasi dan menjajagi rasa diri sendiri” itu ditulis dalam bentuk tembang (puisi), kemudian dijadikan buku dengan judul “Uran-uran Beja”.
Kisah-kisah tentang laku Ki Ageng yang menjajagi rasa diri sendiri tersebut ada banyak sekali, di antaranya sebagai berikut.
Suatu hari Ki Ageng akan pergi ke Parang Tritis yang terletak di pantai selatan Yogyakarta. Sesampainya di Kali Opak perjalanannya terhalang banjir besar. Para tukang perahu sudah memperingatkan Ki Ageng agar tidak menyeberang, tetapi karena merasa pandai berenang, Ki Ageng nekad menceburkan diri ke dalam sungai. Akhirnya ia megap-megap hampir tenggelam dan kemudian ditolong oleh para tukang perahu.
Setelah pulang ia berkata kepada Ki Prawirowiworo sebagai berikut, “Aku mendapat pengalaman. Pada waktu aku akan terjun ke dalam sungai, tidak ada rasa takut sama sekali. Sampai gelagapan pun rasa takut itu tetap tidak ada. Bahkan aku dapat melihat si Suryomentaram yang megap-megap hampir tenggelam.” Ki Prawirowiworo menjawab, “Tidak takut apa-apa itu memang benar, sebab Ki Ageng adalah orang yang putus asa. Orang yang putus asa itu biasanya nekad ingin mati saja.” Ki Ageng menjawab, “Kau benar. Rupanya si Suryomentaram yang putus asa karena ditinggal mati kakek yang menyayanginya, dan istri yang dicintainya, nekad ingin bunuh diri. Tetapi pada pengalaman ini ada yang baik sekali, pada waktu kejadian tenggelam megap-megap, ada rasa yang tidak ikut megap-megap, tetapi malah dapat melihat si Suryomentaram yang megap-megap gelagapan itu.”
PEMBENTUKAN P-E-T-A ( Baca pula kesaksian-kesaksian )
Belanda mencurigai gerak-gerik Ki Ageng. Maka setiap ia mengadakan ceramah ataupun pertemuan-pertemuan selalu ada PID (Politzeke Inlichtingen Dienst) atau reserse yang ikut hadir. Sekitar tahun 1926, ketika aksi bangsa kita menentang bangsa Belanda semakin marak, banyak perintis kemerdekaan yang ditangkap dan dibuang ke Digul dengan tuduhan sebagai agen atau anggota komunis. Suatu ketika Ki Ageng bepergian dari Bringin ke Yogya, sesampainya di desa Gondangwinangun ia ditahan oleh polisi kemudian dibawa ke Yogya dan dimasukkan ke dalam sel tahanan. Setelah ditanggung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, Ki Ageng kemudian dibebaskan.
Pada pertemuan-pertemuan “Manggala Tiga Belas” persoalan-persoalan yang dibicarakan berkisar pada bagaimana cara menolak peperangan bila Indonesia menjadi gelanggang perang antara Belanda dan Jepang. Ki Ageng mengemukakan bahwa bangsa Indonesia dalam peperangan itu mempunyai tiga pilihan, ialah:
  1. Membela majikan lama yaitu Belanda.
  2. Ganti majikan baru yaitu Jepang.
  3. Menjadi majikan sendiri yaitu merdeka.
Perang itu sendiri bukanlah persoalan kita melainkan persoalan pihak Belanda dan Jepang. Permasalahan kita ialah, kita ini tinggal di negeri sendiri, tetapi negeri kita ini dipakai untuk gelanggang perang. Kalau kita mau pergi, mau pergi ke mana?. Kalau kita tinggalkan tentu akan diambil oleh orang lain.
Pertemuan “Manggala Tiga Belas” yang pertama diadakan di pendapa Taman Siswa, dan yang kedua diadakan di rumah Pangeran Suryodiningrat. Pertemuan tersebut baru sempat diadakan dua kali ketika Jepang sudah keburu mendarat di Jawa.
Pada waktu pendudukan Jepang, Ki Ageng berusaha keras untuk membentuk tentara, karena ia berkeyakinan bahwa tentara adalah tulang punggung negara. Hal ini dikemukakan Ki Ageng dalam pertemuannya dengan Empat Serangkai (Bung Karno, Bung Hatta, Kiai Haji Mas Mansoer, Ki Hadjar Dewantara).
Ki Ageng juga menyusun suatu tulisan tentang dasar-dasar ketentaraan yang diberinya nama “Jimat Perang”, yaitu pandai perang dan berani mati dalam perang. Jimat Perang ini diceramahkan oleh Ki Ageng ke mana-mana. Pada suatu kesempatan bertemu Bung Karno, Ki Ageng memberikan Jimat Perang ini, yang kemudian dipopulerkan oleh Bung Karno dalam pidato-pidatonya di radio. Maka Jimat Perang ini segera tersebar luas di kalangan masyarakat sehingga membangkitkan semangat berani mati dan berani perang.
Dalam usaha mewujudkan gagasannya, Ki Ageng mengajukan permohonan kepada gubernur Yogya yang pada waktu itu dijabat oleh Kolonel Yamauchi, untuk membentuk tentara sukarela, akan tetapi permohonan tersebut ditolak. Kemudian seorang anggota dinas rahasia Jepang yang bernama Asano menyanggupi akan membawa permohonan itu langsung ke Tokyo.
Untuk membuat surat permohonan tersebut Ki Ageng membentuk panitia 9 yang disebut “Manggala Sembilan”, masing-masing adalah:
  1. Ki Suwarjono
  2. Ki Sakirdanarli
  3. Ki Atmosutidjo
  4. Ki Pronowidigdo
  5. Ki Prawirowiworo
  6. Ki Darmosugito
  7. Ki Asrar
  8. Ki Atmokusumo
  9. Ki Ageng Suryomentaram
Setelah ditandatangani dengan darah masing-masing oleh kesembilan orang di atas, surat tersebut diserahkan kepada Asano yang membawanya sendiri langsung ke Tokyo. Permohonan ini tidak diketahui oleh pemerintah Jepang di Indonesia. Tidak lama kemudian diterima berita bahwa permohonan tersebut dikabulkan. Maka pemerintah Jepang yang ada di Indonesia terkejut, tetapi karena itu adalah izin langsung dari Tokyo maka Tentara Sukarela tetap harus dibentuk.
Kemudian Ki Ageng mengadakan pendaftaran. Maka berduyun-duyunlah yang mendaftarkan diri. Akhirnya pendaftaran diambil alih oleh pemerintah dan nama Tentara Sukarela diubah menjadi Tentara Pembela Tanah Air, disingkat PETA. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, tentara PETA inilah yang merupakan modal kekuatan untuk mempertahankan kemerdekaan dan selanjutnya menjadi inti Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pada waktu perang kemerdekaan, Ki Ageng memimpin pasukan gerilya yang disebut Pasukan Jelata, daerah operasinya di sekitar Wonosegoro. Setelah ibu kota RI Yogyakarta diduduki Belanda, Ki Ageng bersama keluarga meninggalkan kota, mengungsi ke daerah Gunung Kidul. Di tempat pengungsian ini Ki Ageng masih selalu berhubungan dengan tentara gerilya.
PENUTUP
Setelah penyerahan kedaulatan, Ki Ageng mulai lagi mengadakan ceramah-ceramah Kawruh Beja (Kawruh Jiwa) ke mana-mana, ikut aktif mengisi kemerdekaan dengan pembangunan jiwa berupa ceramah-ceramah pembangunan jiwa warga negara. Pada tahun 1957 pernah diundang oleh Bung Karno ke Istana Merdeka untuk dimintai wawasan tentang berbagai macam masalah negara. Ki Ageng tetap mengenakan pakaian yang biasa dipakainya sehari-hari.
Kurang lebih 40 tahun Ki Ageng menyelidiki alam kejiwaan dengan menggunakan dirinya sebagai kelinci percobaan.
Pada suatu hari ketika sedang mengadakan ceramah di desa Sajen, di daerah Salatiga, Ki Ageng jatuh sakit dan dibawa pulang ke Yogya, dirawat di rumah sakit. Sewaktu di rumah sakit itu, Ki Ageng masih sempat menemukan kawruh yaitu bahwa “puncak belajar kawruh jiwa ialah mengetahui gagasannya sendiri”.
Ki Ageng dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu, namun karena sakitnya tidak kunjung berkurang, kemudian ia dibawa pulang ke rumah. Sakitnya makin lama makin parah, dan pada hari Minggu Pon tanggal 18 Maret 1962 jam 16.45, dalam usia 70 tahun, Ki Ageng tutup usia di rumahnya di Jln. Rotowijayan no. 22 Yogyakarta dan dimakamkan di makam keluarga di desa Kanggotan, sebelah selatan kota Yogyakarta.
Ki Ageng Suryomentaram meninggalkan seorang istri, dua orang putra, dan empat orang putri. Seorang putra telah meninggal. Mereka adalah:
  1. RMF Pannie
  2. RM Jegot (meninggal)
  3. RM Grangsang
  4. RA Japrut
  5. RA Dlureg
  6. RA Gresah
  7. RA Semplah
Ki Ageng Suryomentaram juga meninggalkan warisan yang sangat berharga yaitu KAWRUH PANGAWIKAN PRIBADI atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan KAWRUH JIWA bagi kita semua yang bersedia melepaskan segala atribut keangkuhan kita, bagi kita yang bersedia menjadi manusia sederhana dan rendah hati, yang mendambakan masyarakat Indonesia damai sejahtera.
diambil dari: http://www.geocities.com/kramadangsa/riwayat.htm (22 September 2007)

Pangawikan Pribadi (Pengenalan Diri)

"Di atas bumi dan di bawah langit ini tidak ada yang pantas dicari-cari (diburu) ataupun ditolak (disingkiri) secara mati-matian." (Ki Ageng Suryomentaram)

Dunia berputar dengan perubahan yang cepat luar biasa. Perubahan terutama menyangkut aspek perilaku, perasaan, dan pikiran manusia. Pikiran manusia merupakan asal dari segala perubahan.
            
Bila pikiran kita jernih, keheningan jiwa dapat dirasakan, dan perilaku menjadi tenang, mendatangkan ketenangan dalam kehidupan di sekeliling kita. Sebaliknya, bila pikiran berantakan, perasaan atau jiwa kita terasa kacau, dan perilaku kita juga mengacaukan kehidupan di sekeliling kita.
            
Dari mana datangnya kejernihan pikiran? Ini merupakan inti persoalan hidup kita jika kita ingin merasakan kebahagiaan sejati dalam meng-arungi hidup dalam keadaan seperti apa pun. Sebagian dari kita tidak memedulikan hal ini, dan menjalani hidup secara serampangan mengikuti arus kehidupan materi yang adanya di luar diri mereka sendiri.
            
Bagaimanapun, banyak orang yang telah melihat bahwa keheningan di dalam diri sendiri merupakan pusat dari keheningan di alam semesta ini. Oleh sebab itu, perubahan apa pun yang terjadi di sekelilingnya tidak membuat mereka ini terombang-ambing pikiran dan perasaannya, serta dapat melakukan hal yang paling penting untuk terjadinya perubahan yang baik untuk kehidupannya dan dunia di sekelilingnya.
            
Keheningan diri tentu saja hanya dapat dicapai melalui pengenalan terhadap diri sendiri. Banyak jalan yang diajarkan oleh para filsuf, psikolog, ataupun para spiritualis, untuk dapat mengenal diri sendiri. Salah satunya adalah ajaran dari Ki Ageng Suryomentaram (KAS) yang dituliskan ataupun disebarkannya melalui sarasehan pada zamannya.
            
Seperti yang pernah tersaji dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya, ajaran KAS merupakan hasil perjalanan pribadi beliau dari kondisi tidak bahagia dalam kehidupan di Istana Keraton Yogyakarta menembus keadaan bahagia langgeng (abadi) dalam kehidupan lumrah sebagai rakyat jelata.
Mengenai pengenalan diri pribadi (pangawikan pribadi) berikut ini untuk Anda, disajikan tulisan yang merupakan terjemahan dari tulisan berbahasa Jawa dari Ki Prawira-wiwara, salah seorang yang setia menyebarkan ajaran hidup bahagia dari Ki Ageng Suryomentaram.
            
Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan bagian-bagian dari pengetahuan ini. Namun, apa yang disampaikan ini adalah semacam rangkuman dari beberapa pengetahuan yang diajarkan oleh KAS dalam rangka pangawikan pribadi atau mengetahui diri sendiri. Sebagai rangkuman, hal ini mungkin dapat memberikan gambaran agak utuh perihal pangawikan pribadi yang diharapkan dapat membawa kita pada kebahagiaan langgeng dalam situasi yang berubah seperti apapun.
            
Ki Prawirawiwara menekankan, bahwa dalam upaya mengetahui diri sendiri tidak perlu saling mencocokkan dengan orang lain. Yang paling perlu adalah mencocokkan dengan diri pribadi. Bila diperlukan saksi dalam pangawikan pribadi, cukup dengan beberapa orang saja.

BAHAGIA DAN SUSAH

Di atas bumi dan di bawah langit ini tidak ada yang pantas dicari-cari (diburu) ataupun ditolak (disingkiri) secara mati-matian.

Jika orang berhasil memperoleh apa yang dicari-cari atau diburunya, tidak lantas membuat orang tersebut bahagia. Kalau toh ia merasakan kebahagiaan, rasa itu biasanya hanya berlangsung sebentar dan selanjutnya ia akan kembali merasakan susah. Sebaliknya, bila hal yang tidak diinginkan, ditolak, atau disingkiri itu terjadi pada dirinya, apa yang terjadi itu tidak lantas membuat orang tersebut menjadi susah. Kalau toh ia merasakan susah, rasa itu biasanya hanya berlangsung sebentar dan selanjutnya ia akan kembali merasakan bahagia.

Kebanyakan orang, ketika memiliki keinginan (karep), memiliki pendapat bahwa bila keinginan mereka terpenuhi, ia akan merasa sangat bahagia atau bahagia selamanya. Sebaliknya, ketika keinginan mereka tidak terpenuhi, ia akan merasa sangat celaka atau susah selamanya.

Padahal, tidak demikian adanya. Sudah banyak keinginan orang yang terpenuhi, ia tetap merasa tidak bahagia, ia hanya bahagia sebentar, kemudian susah lagi. Sebaliknya, sudah banyak keinginan orang yang tidak terpenuhi, ia merasa celaka, tetapi hanya celaka sebentar, kemudian bahagia lagi. Jadi, selama orang menjalani hidup ini, tidak ada rasa bahagia tanpa rasa susah dan tidak ada rasa susah tanpa rasa bahagia.

SIFATNYA TIDAK MENETAP

Bahagia dan susah itu tidak menetap (ajek). Seseorang merasa bahagia karena keinginannya tercapai. Padahal, setiap keinginan tercapai, keinginan itu akan mulur (berkembang) meminta yang lebih atau meningkat. Bila keinginan mulur tadi tercapai, keinginan itu akan mulur lagi, dan seterusnya, demikian sampai keinginan tidak dapat dicapai (mentok). Di sini, orang menjadi susah.
            
Seseorang merasa susah karena keinginannya tidak tercapai. Padahal, setiap keinginan tidak tercapai, ia akan mungkret (menyusut). Bila keinginan mungkret itu tidak tercapai, keinginan tadi akan mungkret lagi, dan seterusnya demikian sampai pada keinginan yang dapat dicapai. Di sini, orang menjadi senang atau bahagia.

Demikianlah sifat dari keinginan orang, kalau tercapai akan mulur dan mulur lagi sampai mentok pada keinginan yang tidak dapat dicapai yang membuat orang menjadi susah. Kemudian keinginannya mungkret dan mungkret lagi sampai mentok pada keinginan yang bisa dicapai yang membuat orang menjadi senang atau bahagia. Perjalanan hidup manusia sebentar bahagia dan sebentar susah.

MUNCUL KEINGINAN
            
Keinginan muncul atau lahir dalam usaha mencapai semat (kekayaan), drajat (kedudukan), dan kramat (kekuasaan). Bila keinginan-keinginan mencapai semat, drajat, kramat, salah satu atau dua di antaranya tercapai pasti keinginan itu akan mulur sampai mentok, kemudian akan mungkret lagi sampai mentok juga. Keinginan yang sifatnya mulur dan mungkret membuat orang sebentar bahagia dan sebentar susah.
            
Semua orang dalam menjalani hidup ini penuh diisi dengan keinginan-keinginan yang menyebabkan orang selalu mengalami sebentar bahagia dan sebentar susah. Jadi, semua orang, raja atau hamba, kaya atau miskin, orang baik-baik atau penjahat, orang pintar atau bodoh, wali atau bajingan, merasakan hal yang sama, yaitu sebentar bahagia dan sebentar susah.
            
Yang dirasakan sama di sini adalah rasa, tingkat (sejauh mana), dan lamanya bahagia dan susah. Sementara yang berbeda adalah apa yang membuat dia bahagia atau susah. (Bersambung)
Pangawikan Pribadi Selengkapnya

"Di atas bumi dan di bawah langit ini tidak ada yang pantas dicari-cari (diburu) ataupun ditolak (disingkiri) secara mati-matian." (Ki Ageng Suryomentaram)


BEBAS DARI IRI DAN SOMBONG
            
Bila orang mengetahui bahwa rasa hidup semua orang sama, orang akan terbebas dari iri dan sombong (luwar saking nraka meri lan pambegan). Rasa iri dan sombong akan membuat orang berupaya keras, jumpalitan, lupa diri, dan tidak dapat mengontrol diri lagi sehingga menjadi orang celaka.
            
Iri mengandung perasaan kalah, sedangkan sombong mengandung rasa menang, pada sesamanya. Karena itu, orang bertingkah "tidak mau kalah" atau "mau selalu menang" terhadap orang lain. Untuk memenuhinya orang berusaha keras dan jumpalitan seperti itu.
            
Ketika orang tahu bahwa rasa orang hidup itu sama saja, ia akan merasa masuk surga tenteram (manjing swarga tentrem). Biarpun mencari semat, drajat, dan kramat, ia tetap akan tenteram karena tidak dilandasi rasa iri dan sombong terhadap sesamanya.

KEINGINAN ITU ABADI
            
Keinginan (karep) itu abadi (langgeng), artinya sejak dulu sudah ada, kini pun ada, kelak pun akan selalu ada. Keinginan itu barang asal yang tidak ada asalnya, tetapi justru berupa asal. Keinginan adalah asal dari hidup, benih hidup, yang menyebabkan hidup, dan oleh karenanya abadi.
Keinginan itu tempatnya di mana? Tak ada yang tahu atau tidak diketahui, sehingga apa yang diinginkan nanti, esok, dan seterusnya berada di awang-awang, baik sebelumnya maupun sesudahnya, berada di dalam keinginan itu sendiri.
Bila orang mengetahui bahwa keinginan itu abadi dan sifatnya mulur dan mungkret, ini membuat orang sebentar merasa bahagia dan sebentar kemudian merasa susah.
            
Dengan menyadari hal ini orang akan terbebas dari rasa sesal dan khawatir (luwar saking nraka getun lan sumelang).
            
Sesal ialah takut akan pengalaman yang telah dialami. Khawatir ialah takut akan pengalaman yang belum dialami. Orang yang mengalami hal ini menjadi orang yang celaka. Jika perasaan sesal dan khawatir ini tumbuh, sebaiknya segera dipupus dengan pemikiran bahwa "apa yang sudah terjadi dan yang akan terjadi isinya hanya membuat orang sebentar bahagia dan sebentar susah." Tiada lain.
            
Karena itu, jika orang tahu bahwa perjalanan hidup itu langgeng, kemarin-sekarang-besok sama saja, sebentar bahagia dan sebentar susah, dan ia akan masuk surga tabah (manjing swarga tatag), berani menghadapi segala hal.
            
Bila orang mengetahui bahwa hidup itu sebentar bahagia dan sebentar susah, dan bahwa rasa demikian itu abadi (langgeng), ia akan tahu bahwa dalam hidup ini tidak ada yang mengkhawatirkan dan tidak ada pula yang sangat menarik hati (menginake).

BAHAGIA ABADI

Keinginan (karep) kalau tercapai dirasa senang-bahagia, kemudian mulur. Kalau tidak tercapai, susah, kemudian mungkret. Jadi, keinginan apa pun boleh saja muncul, tidak ada yang mengkhawatirkan. Dengan demikian, seperti gembala melepas domba-dombanya, kita dapat melepas bebas keinginan kita.
Jadi, muncullah si pengamat/penggembala (kang nyawang = kang angon). Timbulnya dari rasa ada: "Aku". Si pengamat, "Aku", itu barang asal, asalnya dari rasa ada yang tidak dapat rusak (abadi). Barang asal itu tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain, tetapi malahan sebagai asal dari semua barang dan hal. la juga merupakan asal dari rasa aku senang dan aku susah.
Si pengamat ini pekerjaannya hanya mengamati (nyawang) keinginan (karep) yang senantiasa senang-bahagia. Mengamati diri sendiri senang, rasanya senang-bahagia; mengamati diri sendiri susah, tetap merasa senang-bahagia. Rasa yang muncul dari mengawasi keinginan sendiri itu, ialah "senang-bahagia abadi" (begja langgeng).

Pengalaman Ki Prawirawiwara
            
Pangawikan pribadi merupakan pengetahuan (ilmu) nyata. Nyata bagi diri saya sendiri. Bukan pengetahuan berdasar “kata orang”. Bukan pengetahuan yang dasarnya dari menduga-duga.
            
Pangawikan pribadi itu wataknya “wening” (jernih). Saya yang semula tidak dapat merasa (rumaos) kemudian menjadi dapat merasa, byar, terang benderang. Sekarang saya dapat melihat jernih diri sendiri, orang lain, dan juga barang ciptaan lain.
            
Sewaktu Pangawikan Pribadi saya belokkan menurut kemauan saya sendiri, yaitu menuruti keinginan (karep), watak wening seketika sirna dan berbalik, Saya yang semula dapat merasa (rumaos), kemudian menjadi tidak dapat merasa, pet, gelap gulita.
            
Sekarang, saya hanya dapat melihat samar-samar diri sendiri, orang lain, dan juga barang ciptaan lain. Semua menjadi kebolak – balik, kiri menjadi kanan, terang menjadi gelap, dan seterusnya.
            
Jikalau pangawikan pribadi dijalankan secara benar, ajek, dan lurus dalam rangka mengetahui diri sendiri dan juga mengetahui keinginan (karep), watak wening semakin jelas, membekas, sampai kandas dan akhirnya merasa (rumaos). Saya seperti dalam kondisi “nol”.
            
Dalam kondisi “nol”, saya juga merasa ikhlas (rila). Yang saya ikhlaskan diri saya sendiri. Saya sudah tidak tertarik lagi dengan keinginan-keinginan dan hanya mengikuti irama ombak kehidupan. Saya menjadi orang yang bebas merdeka.
            
Cinta kasih pribadi (sih pribadi), yaitu cinta kasih yang tumbuh dari rasa “wening” bersih jernih, tanpa hitung-hitungan, dan tanpa pertimbangan. Cinta kasih pribadi ini cinta kasih yang sejati. Jadi, cinta kasih yang berasal dari keinginan yang cocok dan selaras dengan cinta kasih pribadi, merupakan cinta kasih sejati. Kalau cinta kasih berasal dari adanya keinginan (pamrih) tertentu, dapat dipastikan bahwa cinta kasih itu hanya tipu-tipuan.
            
Cinta kasih pribadi ini wataknya sarwa raras  (serba selaras) dan serba senang. Saya yang semula tidak dapat merasa (rumaos) menjadi mudah merasa, sempurna, disertai rasa segar yang menyusup ke tulang sumsum dan seluruh badan. Dengan dasar wening yang sempurna, saya merasa serba senang, baik terhadap diri sendiri, sesama, dan ciptaan lain yang sarwa raras, yang berada di atas bumi dan di bawah langit yang sarwa raras, dan di tempat-tempat yang penuh sarwa raras dan serba senang.
            
Akhirnya, saya merasa sama saja dengan orang lain. Apa yang saya tuturkan di sini sejatinya sama dengan apa yang ingin dituturkan orang lain. Salam SOBAT !


Humanika Outbound Training - HOT

Contact Me